Monday, March 23, 2015

Stranger

   For you I'll always be a stranger
   That you may see me a little bitter

Stranger

   I'm a stranger who call you in my dream
   But to get you is impossible even if I scream

Stranger

   I'm a stranger who is staring at the nightingale
   Who just realizes, "Happy ever after" is only fairytale

Friday, November 28, 2014

A Treasure Beneath the Friendland

   Suatu pagi menjelang siang, seorang sahabatku, sebut saja Star, memintaku untuk menemaninya membeli sesuatu di mall setempat.
   "Ndi, temenin aku dong," pintanya.
   "Nang endi?" tanyaku.
   "Ke situ sediluk, nyari something. Kowe lagi nggak sibuk kan?"
   "Enggak kok."
   Di sini, sekilas seseorang tampak meminta temannya untuk melakukan sesuatu yang diinginkannya.

   Kami berdua belum sarapan. Perutku keroncongan.
   "Kowe durung sarapan, Ndi?" tanyanya. Aku cuma nyengir.
   "Kowe?" tanyaku balik.
   "Sama, hehe. Piye kalo kita makan dulu?" ajaknya. Aku spontan melirik ke arah mall. 
   "Aku lagi pengen nyobak sesuatu iki." Aku tahu apa yang ia maksud.
   "Di situ?" tanyaku yang masih melirik ke arah mall yang ia maksud. "Mahal nggak?" tembakku langsung.
   "Standar se. Ya nggak nyampek dua puluh ribu lah."
   Bagi mahasiswa asal keluarga golongan menengah ke bawah, sekali makan harus di bawah sepuluh ribu. Di atas itu, pastikan di akhir bulan mereka kelaparan, atau paling mentok makan mie instan. Star, adalah anak dari golongan berada. Ia bukan anak manja yang jumawa. Ia bilang di bawah dua puluh ribu adalah harga yang tidak mahal karena di lingkungan tempat tinggalnya ia terbiasa dengan harga itu. Ia berasal dari luar kota ini, di mana harga standar di daerahnya sama dengan harga mahal di kota ini. Ia enteng saja merogoh kocek dengan harga sekian karena menurutnya itu sudah cukup ekonomis. Lain denganku, aku berasal dari keluarga berkecukupan. Tentu, aku sedikit keberatan.
   "Tak traktir setengah wes," tahu-tahu dia berceletuk.
   "Tenan e?" Aku sedikit terkejut.
   "Iyaa. Tapi setengahnya wae, yo. Aku lagi nggak ada duit iki."
   Sepintas, ia nampak pelit dengan traktirannya yang setengah-setengah. Terang saja, 'nggak ada duit' baginya sama dengan jatah tanggal satu dari ayahku. Tapi bukan itu poinnya. Yang sangat aku kagumi adalah ia tahu aku keberatan dan ingin sedikit meringankannya. Di sisi lain ia sadar bahwa ia adalah seorang mahasiswi perantauan yang masih mengemis kepada orangtuanya. Maka jadilah ia mengambil keputusan yang menurutnya cukup bijak.
   Walaupun kali ini aku hanya ditraktir setengah, tapi tak jarang ia memberiku apa yang ia miliki saat itu. Ia senang berbagi. Ia sosok yang dermawan dan rendah hati. Sama sekali tak terlihat seperti orang kaya, cenderung nampak polos. Jujur, aku senang mendapat makanan ataupun tumpangan gratis, karena hal itu lumayan mengamankan isi dompetku. Siapa yang mau menolak? Tapi tak jarang aku merasa segan. Aku masih teringat pepatah lebih baik tangan di atas daripada tangan di bawah. Aku merasa seperti hanya memanfaatkan harta orangtuanya. Atau lebih tepatnya takut orang lain memandangku teman yang materialistis. Tapi bukan itu poinnya. Yang terpenting adalah ia mau berteman dengan siapa saja, tanpa pandang bulu, tanpa memilih yang sekasta dengannya. Ia mau memberikan segalanya, hartanya, waktunya, dan membayar apa saja demi sebuah persahabatan. Dari sinilah aku tahu, sahabat adalah sebuah harta karun yang tak perlu jauh-jauh kita cari, ia ada di sekitar kita jika kita mau berusaha sadar.

Thursday, November 27, 2014

A Piece of Dream in the Middle of the Rain

   Aku tahu, aku yakin hari ini akan turun hujan. Aku sengaja tak membawa payung atau jas hujan. Jika nanti aku kehujanan di tengah perjalanan, aku akan menikmati setiap rintiknya. Akan kubiarkan seluruh emosiku meluruh diguyur hujan. Bukan, bukannya aku bermaksud menutupi air mataku dengan air hujan. Sama sekali bukan. Aku janji, aku takkan menangis. Kalaupun aku menangis, aku biasa saja. Aku tak peduli jika tangisanku diketahui oleh orang lain. Buat apa aku peduli? Memangnya orang lain mau peduli apa?
  Hujan adalah penenangku. Hujan telah menjadi obat canduku. Jangan heran jika nanti aku malah hujan-hujanan sampai bibirku membiru sementara yang lain sibuk mencari tempat teduh. Serasa tubuhku terbang melayang menggantikan air yang malah jatuh ke bumi. Nanti, setelah hujan reda, kubiarkan badanku menggigil. Kubiarkan dingin menyusup ke pori-pori kulitku dan meremangkan bulu romaku. Kubiarkan dingin itu menusuk persendianku sampai terasa ngilu. Mungkin nanti aku akan bersin-bersin, kemudian flu mampir di hidungku, hingga nanti panas tubuhku meninggi sampai-sampai aku terbaring pusing di atas tempat tidurku. 
   Apa yang tadi kuramalkan kini terjadi. Semua. Tak ada satupun adegan dari rentetan ramalan peristiwa yang terlewat. Di atas kasurku, aku mengistirahatkan seluruh tubuhku tak terkecuali kedua mataku. Rohku mulai berkelana. Ia mulai menapaki alam mimpi yang selalu ia kunjungi tiap kali ia tertidur. Kubiarkan ia berjalan tanpa henti. Begitu tergesa, tampak seperti setengah berlari. Entahlah, apa yang sedang ia cari. Yang aku tahu, setelah ia kembali ke dunia nyata ia akan membawa sebuah cerita. Biarkan saja, tak lama lagi ia akan lelah. Ia akan berhenti berjalan. Ia akan berhenti bermimpi dan akan tejaga di tengah malam. Lihatlah, langkahnya mulai melamban. Ia semakin mendekat dan semakin mendekat. 
   Akhirnya, ia menyatukan dirinya lagi dengan ragaku. Mataku terbuka, aku terjaga. Kulempar pandanganku ke arah jendela. Hujan. Hujan itu masih ada. Derasnya masih sama seperti terakhir mataku terbuka sebelum aku tertidur. Yang kulihat berbeda adalah langitnya sudah gelap. Malam menyelimuti dunia nyataku.
   Sesuatu yang kita cintai tak selamanya memberikan sumbangsih yang membahagiakan dan menenangkan. Aku membenci satu sisi dari sesuatu yang aku cintai, termasuk hujan. Inilah yang tak kusuka dari hujan. Langit malam menjadi gulita tanpa gemintang yang biasanya tampak bertabur indah. Awan gelap yang di bawa musimnya menghalangi perjumpaan manisku dengan gemerlap angkasa. Aku sedang merindukan bulan. Aku ingin bercerita kepada bintang. Tapi rupanya mereka masih enggan bertatap muka denganku. Malam ini, aku gagal bercumbu dengan hujanku.
   Terdengar nyanyian binatang malam di tengah rintik hujan. Suara jangkrik. Jangkrik akan berbicara lebih keras ketika musim hujan daripada musim kemarau. Mungkin, mereka berduka karena rumahnya kemasukan air hujan. Atau sebaliknya, boleh jadi mereka malah berpesta mengucap syukur sekeras-kerasnya atas diturunkannya hujan sebagai rahmat yang diturunkan oleh Yang Maha Kuasa. Siapa tahu? Mereka tak akan pernah berbicara dengan bahasa mereka begitupun kita. Suara jangkrik telah membuatku tersadar, antara harus berpikir yang baik-baik atau sebaliknya. Kesadaran inilah yang membuatku terikat. Aku menyadari sesuatu, tapi tak bisa mengambil suatu tindakan untuk menuntaskannya. Terkadang, aku berpikir lebih baik aku tak sadar akan sesuatu daripada iya, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Sekarang aku tahu, apa yang sebenarnya aku inginkan dan aku butuhkan. Aku ingin kebebasan.
   Aku jadi ingat mimpiku barusan. Aku sempat bermimpi menjadi seekor kupu-kupu, kupu-kupu yang terbang bebas di udara. Entah kenapa harus kupu-kupu. Padahal, seharian aku tak melihat seekor kupu-kupu pun. Aku juga tidak kepikiran hewan apapun. Mungkin, inilah jawaban dari kegelisahanku berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Kupu-kupu inilah simbol kebebasan sejati.
   Kupu-kupu adalah makhluk manis yang hidupnya tidak seketika molek saat menetas. Ia mengalami beberapa fase untuk membentuk sayap indahnya. Pertama kali ia ada di dunia, ia ada dalam sebutir telur. Setelah telur itu menetas, jadilah ia seekor ulat. Tak pernah kudengar ada seseorang yang memuja-muji ulat. Bagi kebanyakan orang, ulat adalah makhluk buruk rupa yang membuat kulit gatal, yang tentunya harus dihindari. Bosan dihina dan dicacimaki, ulat pun mulai mengasingkan diri. Ia menyelimuti dirinya dengan selaput tipis yang lama-lama akan mengeras. Dari luar, tampaknya ulat sedang beristirahat atau menenangkan diri di dalam kepompong. Tapi sebenarnya, inilah titik perjuangan yang luar biasa berat bagi sang ulat untuk mempersiapkan dirinya menjadi seekor kupu-kupu. Dalam beberapa hari, kepompong itu akan retak dan keluarlah sang kupu-kupu dari cangkang panjangnya. Untuk keluar dari kepompong, kupu-kupu tak perlu meminta maupun mendapat bantuan. Bahkan jangan sampai ada yang ikut campur dalam proses pembebasannya. Jika proses ini  bukan murni perjuangan sang kupu-kupu sendiri, maka ia akan lumpuh selamanya. Ia takkan pernah terbang seperti kawanan lainnya, ia akan menjadi kupu-kupu yang hina, jauh lebih terlunta daripada ketika ia masih berupa ulat. Namun apabila ia berhasil, ia akan terbang seumur hidupnya.
   Maka, inilah jawaban atas kegelisahanku. Aku hanya ingin kebebasan. Kebebasan yang bukan cuma-cuma, tapi berbayar perjuangan dan usaha keras.

Wednesday, November 26, 2014

Freaquestion


   Ijinkan aku bercurah hati sebentar. Kawan, tolong jujur padaku, siapa sebenarnya aku? Mengapa aku ada di sini? Untuk apa? Jawab pertanyaan itu saja. Karena bagaimana aku bisa sampai sini, aku tahu itu. Aku sudah tahu. Aku mengalaminya dalam kendali kesadaranku. Aku punya jawaban-jawaban tanpa ada pertanyaan. Tapi aku juga punya sekian pertanyaan tanpa ada jawaban. Baiklah, aku tahu, kadang aku menanyakan sesuatu yang aku tahu jawabannya. Aneh bukan, bertanya atas sesuatu yang sudah kita ketahui jawabannya? Dipandang sekilas memang terasa aneh. Tapi bukankah seharusnya kita berhenti bertanya ketika jawabannya sudah ada? Lantas mengapa kita masih bertanya? Pikirkan sejenak. Mungkin, jawaban yang ada itu bukanlah jawaban yang sebenarnya. Atau mungkin, kita sama sekali belum pernah mendapatkan jawabannya. Dan mungkin saja, jawaban yang ada adalah jawaban sebenarnya, namun kita masih memandangnya dalam perspektif yang tidak tepat. Mungkin, kita masih melangkah ke dangkalan samudera jawaban itu, padahal sebenarnya jawaban yang kita inginkan ada di palungnya. Mungkin saja kan? Kemungkinan memang sangat banyak, tak terhingga, tak berbatas.
   Kawan, jika kau menemukan jawaban atas suatu pertanyaan, kau tak akan pernah menanyakannya kembali. Kau akan meminta jawaban atas pertanyaan yang lain. Bukankah hidup ini untuk bertanya? Jika kau berhenti bertanya, maka berhenti pula hidupmu. Boleh saja kau tak percaya, tapi cobalah. Cobalah hidup tanpa bertanya. Kembalilah padaku setelah kau melihat hasilnya. Kembalilah, tangan ini terbuka untukmu. Kau boleh mencaciku jika pradugaku salah. Kau boleh mengiyakanku jika pradugaku benar. Kau boleh bertanya lagi, jika kau ingin menghidupkan hidupmu. Silahkan,aku tak akan lelah melayanimu.
   Tunggu kawan, mengapa aku malah menasehatimu? Bukankah seharusnya kau mendengar curahan hatiku? Tidak, aku tak akan membiarkanmu lupa akan pertanyaan pertamaku. Tolong jawablah, siapa sebenarnya aku? Ini sungguh pertanyaan yang menghantui hari-hariku. Kau heran mengapa aku terus bertanya? Seperti yang sudah kukatakan, aku bertanya untuk hidup. Dan aku hidup untuk bertanya kembali.

Old Bike Stops Cycling

Kukayuh sepeda tuaku. Kayuhannya terasa semakin berat. Keringatku menderas di punggung dan pelipis. Tanganku juga mulai melembap. Nafasku juga tersengal-sengal. Aku ingin menangis, tapi tak bisa. Aku harus berhenti, tapi aku enggan. Aku berusaha sekuat tenaga. Aku harus tiba, hari ini juga! Tapi entah, aku merasa lebih lelah dari yang seharusnya. Sepeda yang kukayuh melamban, seperti meminta berhenti. Tanganku pun mulai bergetar, seperti sudah hampir kehilangan nyawa. Tapi sepeda itu terus kukayuh, meski berat dan penuh perjuangan. Aku harus segera sampai! Kukerahkan seluruh emosi dan ambisiku. Sepeda ini harus berjalan lebih cepat! Ayo! Semangat! Tapi... tunggu. Ke mana sebenarnya sepeda ini kukayuh? Ke mana sebenarnya tujuanku? Aku terenyak. Aku baru sadar, aku berjalan tanpa tujuan dan tak tentu arah. Lantas apa yang sedari tadi mati-matian kukejar dan kuperjuangkan? Aku tak tahu. Aku benar-benar buntu. Di titik inilah aku berhenti berpikir dan merasa. Jiwaku seperti menguap. Jasadku menghampa, tak berisi apa-apa. Di titik inilah, sakit luar biasa menyerang ulu hatiku. Sesak. Terluka. Hatiku dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Yang sebegitu menyakitkannya, sehingga aku lupa bagaimana cara merasa. Detik inilah nyawaku seperti terenggut dari ragaku. Kali ini aku benar-benar berhenti. Sepeda itu tak kukayuh lagi. Mataku nanar. Tak ada lagi sandiwara, semua telah nyata. Namun sayangnya, aku masih punya berjuta pertanyaan yang aku tak tahu di mana bisa kutemukan jawabannya. Satu hal yang paling mengusikku, siapa aku sebenarnya?