Aku tahu, aku yakin hari ini akan turun hujan. Aku sengaja tak membawa payung atau jas hujan. Jika nanti aku kehujanan di tengah perjalanan, aku akan menikmati setiap rintiknya. Akan kubiarkan seluruh emosiku meluruh diguyur hujan. Bukan, bukannya aku bermaksud menutupi air mataku dengan air hujan. Sama sekali bukan. Aku janji, aku takkan menangis. Kalaupun aku menangis, aku biasa saja. Aku tak peduli jika tangisanku diketahui oleh orang lain. Buat apa aku peduli? Memangnya orang lain mau peduli apa?
Hujan adalah penenangku. Hujan telah menjadi obat canduku. Jangan heran jika nanti aku malah hujan-hujanan sampai bibirku membiru sementara yang lain sibuk mencari tempat teduh. Serasa tubuhku terbang melayang menggantikan air yang malah jatuh ke bumi. Nanti, setelah hujan reda, kubiarkan badanku menggigil. Kubiarkan dingin menyusup ke pori-pori kulitku dan meremangkan bulu romaku. Kubiarkan dingin itu menusuk persendianku sampai terasa ngilu. Mungkin nanti aku akan bersin-bersin, kemudian flu mampir di hidungku, hingga nanti panas tubuhku meninggi sampai-sampai aku terbaring pusing di atas tempat tidurku.
Apa yang tadi kuramalkan kini terjadi. Semua. Tak ada satupun adegan dari rentetan ramalan peristiwa yang terlewat. Di atas kasurku, aku mengistirahatkan seluruh tubuhku tak terkecuali kedua mataku. Rohku mulai berkelana. Ia mulai menapaki alam mimpi yang selalu ia kunjungi tiap kali ia tertidur. Kubiarkan ia berjalan tanpa henti. Begitu tergesa, tampak seperti setengah berlari. Entahlah, apa yang sedang ia cari. Yang aku tahu, setelah ia kembali ke dunia nyata ia akan membawa sebuah cerita. Biarkan saja, tak lama lagi ia akan lelah. Ia akan berhenti berjalan. Ia akan berhenti bermimpi dan akan tejaga di tengah malam. Lihatlah, langkahnya mulai melamban. Ia semakin mendekat dan semakin mendekat.
Akhirnya, ia menyatukan dirinya lagi dengan ragaku. Mataku terbuka, aku terjaga. Kulempar pandanganku ke arah jendela. Hujan. Hujan itu masih ada. Derasnya masih sama seperti terakhir mataku terbuka sebelum aku tertidur. Yang kulihat berbeda adalah langitnya sudah gelap. Malam menyelimuti dunia nyataku.
Sesuatu yang kita cintai tak selamanya memberikan sumbangsih yang membahagiakan dan menenangkan. Aku membenci satu sisi dari sesuatu yang aku cintai, termasuk hujan. Inilah yang tak kusuka dari hujan. Langit malam menjadi gulita tanpa gemintang yang biasanya tampak bertabur indah. Awan gelap yang di bawa musimnya menghalangi perjumpaan manisku dengan gemerlap angkasa. Aku sedang merindukan bulan. Aku ingin bercerita kepada bintang. Tapi rupanya mereka masih enggan bertatap muka denganku. Malam ini, aku gagal bercumbu dengan hujanku.
Terdengar nyanyian binatang malam di tengah rintik hujan. Suara jangkrik. Jangkrik akan berbicara lebih keras ketika musim hujan daripada musim kemarau. Mungkin, mereka berduka karena rumahnya kemasukan air hujan. Atau sebaliknya, boleh jadi mereka malah berpesta mengucap syukur sekeras-kerasnya atas diturunkannya hujan sebagai rahmat yang diturunkan oleh Yang Maha Kuasa. Siapa tahu? Mereka tak akan pernah berbicara dengan bahasa mereka begitupun kita. Suara jangkrik telah membuatku tersadar, antara harus berpikir yang baik-baik atau sebaliknya. Kesadaran inilah yang membuatku terikat. Aku menyadari sesuatu, tapi tak bisa mengambil suatu tindakan untuk menuntaskannya. Terkadang, aku berpikir lebih baik aku tak sadar akan sesuatu daripada iya, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Sekarang aku tahu, apa yang sebenarnya aku inginkan dan aku butuhkan. Aku ingin kebebasan.
Aku jadi ingat mimpiku barusan. Aku sempat bermimpi menjadi seekor kupu-kupu, kupu-kupu yang terbang bebas di udara. Entah kenapa harus kupu-kupu. Padahal, seharian aku tak melihat seekor kupu-kupu pun. Aku juga tidak kepikiran hewan apapun. Mungkin, inilah jawaban dari kegelisahanku berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Kupu-kupu inilah simbol kebebasan sejati.
Kupu-kupu adalah makhluk manis yang hidupnya tidak seketika molek saat menetas. Ia mengalami beberapa fase untuk membentuk sayap indahnya. Pertama kali ia ada di dunia, ia ada dalam sebutir telur. Setelah telur itu menetas, jadilah ia seekor ulat. Tak pernah kudengar ada seseorang yang memuja-muji ulat. Bagi kebanyakan orang, ulat adalah makhluk buruk rupa yang membuat kulit gatal, yang tentunya harus dihindari. Bosan dihina dan dicacimaki, ulat pun mulai mengasingkan diri. Ia menyelimuti dirinya dengan selaput tipis yang lama-lama akan mengeras. Dari luar, tampaknya ulat sedang beristirahat atau menenangkan diri di dalam kepompong. Tapi sebenarnya, inilah titik perjuangan yang luar biasa berat bagi sang ulat untuk mempersiapkan dirinya menjadi seekor kupu-kupu. Dalam beberapa hari, kepompong itu akan retak dan keluarlah sang kupu-kupu dari cangkang panjangnya. Untuk keluar dari kepompong, kupu-kupu tak perlu meminta maupun mendapat bantuan. Bahkan jangan sampai ada yang ikut campur dalam proses pembebasannya. Jika proses ini bukan murni perjuangan sang kupu-kupu sendiri, maka ia akan lumpuh selamanya. Ia takkan pernah terbang seperti kawanan lainnya, ia akan menjadi kupu-kupu yang hina, jauh lebih terlunta daripada ketika ia masih berupa ulat. Namun apabila ia berhasil, ia akan terbang seumur hidupnya.
Maka, inilah jawaban atas kegelisahanku. Aku hanya ingin kebebasan. Kebebasan yang bukan cuma-cuma, tapi berbayar perjuangan dan usaha keras.
No comments:
Post a Comment