Wednesday, November 26, 2014
Old Bike Stops Cycling
Kukayuh sepeda tuaku. Kayuhannya terasa semakin berat. Keringatku menderas di punggung dan pelipis. Tanganku juga mulai melembap. Nafasku juga tersengal-sengal. Aku ingin menangis, tapi tak bisa. Aku harus berhenti, tapi aku enggan. Aku berusaha sekuat tenaga. Aku harus tiba, hari ini juga! Tapi entah, aku merasa lebih lelah dari yang seharusnya. Sepeda yang kukayuh melamban, seperti meminta berhenti. Tanganku pun mulai bergetar, seperti sudah hampir kehilangan nyawa. Tapi sepeda itu terus kukayuh, meski berat dan penuh perjuangan. Aku harus segera sampai! Kukerahkan seluruh emosi dan ambisiku. Sepeda ini harus berjalan lebih cepat! Ayo! Semangat! Tapi... tunggu. Ke mana sebenarnya sepeda ini kukayuh? Ke mana sebenarnya tujuanku? Aku terenyak. Aku baru sadar, aku berjalan tanpa tujuan dan tak tentu arah. Lantas apa yang sedari tadi mati-matian kukejar dan kuperjuangkan? Aku tak tahu. Aku benar-benar buntu. Di titik inilah aku berhenti berpikir dan merasa. Jiwaku seperti menguap. Jasadku menghampa, tak berisi apa-apa. Di titik inilah, sakit luar biasa menyerang ulu hatiku. Sesak. Terluka. Hatiku dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Yang sebegitu menyakitkannya, sehingga aku lupa bagaimana cara merasa. Detik inilah nyawaku seperti terenggut dari ragaku. Kali ini aku benar-benar berhenti. Sepeda itu tak kukayuh lagi. Mataku nanar. Tak ada lagi sandiwara, semua telah nyata. Namun sayangnya, aku masih punya berjuta pertanyaan yang aku tak tahu di mana bisa kutemukan jawabannya. Satu hal yang paling mengusikku, siapa aku sebenarnya?
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment