Suatu pagi menjelang siang, seorang sahabatku, sebut saja Star, memintaku untuk menemaninya membeli sesuatu di mall setempat.
"Ndi, temenin aku dong," pintanya.
"Nang endi?" tanyaku.
"Ke situ sediluk, nyari something. Kowe lagi nggak sibuk kan?"
"Enggak kok."
Di sini, sekilas seseorang tampak meminta temannya untuk melakukan sesuatu yang diinginkannya.
Kami berdua belum sarapan. Perutku keroncongan.
"Kowe durung sarapan, Ndi?" tanyanya. Aku cuma nyengir.
"Kowe?" tanyaku balik.
"Sama, hehe. Piye kalo kita makan dulu?" ajaknya. Aku spontan melirik ke arah mall.
"Aku lagi pengen nyobak sesuatu iki." Aku tahu apa yang ia maksud.
"Di situ?" tanyaku yang masih melirik ke arah mall yang ia maksud. "Mahal nggak?" tembakku langsung.
"Standar se. Ya nggak nyampek dua puluh ribu lah."
Bagi mahasiswa asal keluarga golongan menengah ke bawah, sekali makan harus di bawah sepuluh ribu. Di atas itu, pastikan di akhir bulan mereka kelaparan, atau paling mentok makan mie instan. Star, adalah anak dari golongan berada. Ia bukan anak manja yang jumawa. Ia bilang di bawah dua puluh ribu adalah harga yang tidak mahal karena di lingkungan tempat tinggalnya ia terbiasa dengan harga itu. Ia berasal dari luar kota ini, di mana harga standar di daerahnya sama dengan harga mahal di kota ini. Ia enteng saja merogoh kocek dengan harga sekian karena menurutnya itu sudah cukup ekonomis. Lain denganku, aku berasal dari keluarga berkecukupan. Tentu, aku sedikit keberatan.
"Tak traktir setengah wes," tahu-tahu dia berceletuk.
"Tenan e?" Aku sedikit terkejut.
"Iyaa. Tapi setengahnya wae, yo. Aku lagi nggak ada duit iki."
Sepintas, ia nampak pelit dengan traktirannya yang setengah-setengah. Terang saja, 'nggak ada duit' baginya sama dengan jatah tanggal satu dari ayahku. Tapi bukan itu poinnya. Yang sangat aku kagumi adalah ia tahu aku keberatan dan ingin sedikit meringankannya. Di sisi lain ia sadar bahwa ia adalah seorang mahasiswi perantauan yang masih mengemis kepada orangtuanya. Maka jadilah ia mengambil keputusan yang menurutnya cukup bijak.
Walaupun kali ini aku hanya ditraktir setengah, tapi tak jarang ia memberiku apa yang ia miliki saat itu. Ia senang berbagi. Ia sosok yang dermawan dan rendah hati. Sama sekali tak terlihat seperti orang kaya, cenderung nampak polos. Jujur, aku senang mendapat makanan ataupun tumpangan gratis, karena hal itu lumayan mengamankan isi dompetku. Siapa yang mau menolak? Tapi tak jarang aku merasa segan. Aku masih teringat pepatah lebih baik tangan di atas daripada tangan di bawah. Aku merasa seperti hanya memanfaatkan harta orangtuanya. Atau lebih tepatnya takut orang lain memandangku teman yang materialistis. Tapi bukan itu poinnya. Yang terpenting adalah ia mau berteman dengan siapa saja, tanpa pandang bulu, tanpa memilih yang sekasta dengannya. Ia mau memberikan segalanya, hartanya, waktunya, dan membayar apa saja demi sebuah persahabatan. Dari sinilah aku tahu, sahabat adalah sebuah harta karun yang tak perlu jauh-jauh kita cari, ia ada di sekitar kita jika kita mau berusaha sadar.